• Bahasa Indonesia
  • Français
Situs Sangiran dan Kerja Sama Prancis-Indonesia

Kerja Sama Prancis di Indonesia di bidang Arkeologi tidak bisa dilepaskan dari rekonstruksi kehidupan manusia-manusia Jawa pertama yang tercatat dalam sejarah kemanusiaan. Di samping penelitian, kerja sama tersebut meliputi pengkaderan peneliti muda, konservasi situs bersejarah dan pendifusian ilmu pengetahuan. Selain itu, kerja sama ini melibatkan Kementerian Urusan Luar Negeri dan Eropa Republik Prancis, Museum National d’Histoire Naturelle (Museum Nasional Sejarah Alam), CNRS dan IRD, berdampingan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran)

Situs Sangiran yang terletak di Jawa Tengah telah terdaftar sebagai Warisan Dunia dan telah menyumbangkan banyak fosil Homo Erectus (‘Pithecanthropus’ atau ‘Manusia Jawa’ yang terkenal itu). Museum Sangiran diresmikan tanggal 15 Desember 2011. Dalam kesempatan itu, Direktur Institut Prancis di Indonesia (IFI), Bapak bertrand de Hartingh, secara resmi menyerahkan kepada Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ibu Windu Nuryanti, hasil rangkai ulang fosil tulang belulang kuda nil (Hexaprotodon sivalensis) yang berumur lebih dari satu juta tahun dan ditemukan pada saat penggalian oleh tim arkeolog Indonesia dan Prancis di situs Sangiran. Museum ini juga memamerkan berbagai hasil rekonstruksi hominid karya seniman Prancis, Elisabeth Daynès.

Setelah peresmian tersebut, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran mengadakan seminar internasional yang diikuti oleh enam puluhan peneliti. Mereka adalah tim peneliti Indonesia-Prancis yang sebelumnya berkunjung ke lubang penggalian di Pacitan.

Sebuah pilot proyek kemudian terlaksana di Sangiran, di situs Pucung (berumur 800.000 tahun), yang diikuti oleh sekitar dua puluh partisipan dari Indonesia, Prancis, Filipina, Korea dan Thailand.

 

 

Peresmian Museum Sangiran oleh Windu Nuryanti, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, didampingi oleh Direktur IFI
Peresmian Museum Sangiran oleh Windu Nuryanti, Wakil Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, didampingi oleh Direktur IFI

 

Direktur IFI, Bertrand de Hartingh menyerahkan hasil rangkai ulang fosil kuda nil kepada Museum Sangiran
Direktur IFI, Bertrand de Hartingh menyerahkan hasil rangkai ulang fosil kuda nil
kepada Museum Sangiran

 

Hasil rangkai ulang tulang belulang Hexaprotodon Sivalensis dari Sangiran (berumur 1,2 juta tahun)
Hasil rangkai ulang tulang belulang Hexaprotodon Sivalensis dari Sangiran (berumur 1,2 juta tahun)

 

Kredit foto: Mission Quaternaire et Préhistoire en Indonésie & Puslitbang Arkenas

Bagikan artikel ini

Rekanan Resmi

Rekanan Media

Metro tv